Breaking News

Ngopi Ngolah Pikir: Bertahan di Tengah Ketidakpastian, Jurnalis Tak Boleh Tunduk

Ngopi Ngolah Pikir: Bertahan di Tengah Ketidakpastian, Jurnalis Tak Boleh Tunduk
Pasuruan, Busercyber.com - Hidup tidak pernah benar-benar adil. Ada yang bangun pagi dengan kepastian gaji, ada yang bangun dengan tanda tanya: hari ini dapat apa atau tidak. Inilah realitas yang tidak semua orang mau akui—termasuk dalam dunia jurnalistik, Sabtu (11/2026).

Di tengah romantisme profesi sebagai “penyampai kebenaran”, banyak jurnalis justru bergulat dengan ketidakpastian. Tidak ada jaminan penghasilan tetap, tidak ada kenyamanan seperti pegawai negeri atau karyawan korporasi. Namun ironisnya, tuntutan profesionalisme tetap tinggi: harus cepat, harus akurat, dan harus dipercaya.

Pertanyaannya, sampai kapan kondisi ini dianggap wajar?

Menjadi jurnalis bukan sekadar soal idealisme, tetapi juga soal daya tahan. Di lapangan, seorang jurnalis dituntut tetap tajam berpikir saat kondisi perut belum tentu terisi. Dituntut objektif di tengah tekanan, bahkan terkadang harus berhadapan dengan kepentingan yang ingin membungkam fakta.

Di sinilah makna “ngopi ngolah pikir” menjadi relevan. Bukan sekadar duduk santai, tetapi merenung, mengasah nalar, dan mempertanyakan arah. Apakah kita hanya akan terus bertahan dalam ketidakpastian, atau mulai menata langkah untuk perubahan?

Pepatah Jawa mengatakan, “sopo nandur bakal ngunduh.” Tetapi dalam realitas hari ini, menanam saja tidak cukup. Harus ada keberanian, konsistensi, dan strategi agar apa yang ditanam benar-benar bisa dipanen.

Jurnalis tidak boleh sekadar bertahan. Jurnalis harus berani bersuara—bukan hanya untuk publik, tetapi juga untuk dirinya sendiri dan profesinya. Jika tidak, maka profesi ini akan terus terjebak dalam lingkaran klasik: idealisme tinggi, kesejahteraan minim.

Tidak ada kata terlambat untuk berubah. Tidak ada alasan untuk menyerah. Selama masih ada pena, masih ada suara, dan masih ada keberanian berpikir, selalu ada jalan untuk bangkit.

Karena pada akhirnya, jurnalisme bukan hanya soal menulis berita. Ini soal menjaga akal sehat publik—dan itu tidak boleh dilakukan dengan mental yang lelah dan pasrah. (@Ga)

Iklan Disini

Type and hit Enter to search

Close